Pada hari jumat,hari dimana kami
mengunjungi Kota Tua, Semua musiam sedang tutup sehingga kami hanya
mengelilingi gedung-gedung dan bertemu berbagaimacam dagangan. Didepan gedung Museum Sejarah Jakarta .
Tentang keadaan sekitar, Saya merasa rishi karena saya melihat banyak
pengunjung local yang masih belum bisa menghargai tempat bersejarah dengan
membuang sampah tidak pada tempatnya.
Selain itu bnayak badut dengan berbagai tokoh kartun sehingga pengunjung
dapat berfoto dengan tokohkesukaan mereka dengan menyisihkan uang sekitar
Rp.1000.
Karena Kota Tua sudah semakin
panas, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Monumen Nasional. Tidak
berbeda jauh dengan Kota Tua, Terdapat banyak orang berjualan di kanan kiri
jalan dan sampah tidak pada tempatnya. Kami mengelilingi MoNas dengan menyewa
sepedah seharga Rp.35.000 Untuk satu sepedah Bertiga berdurasi 30 menit.
Dimonas juga terdapat banyak badut dan bisaberfoto bersama dengan menyisihkan
uang Rp.1.000. erdapat Banyak pilihan sepedah disana. Menurut pengalaman saya,
semakin didalam tempat penyewaannya, sepedah yang ditawarkan semakin bagus
kualitasnya. Jadi lebih baik jangan buru-buru memilih sepedahnya karena tidak
semua sepedah bisa digunakan dengan baik. Lebih baik melihat-lihat saja
terlebih dahulu.
Karena
untuk masuk kedalam monument nasiona membutuhkan mengantri dengan waktu yang
panjang, jadi kami hanya berfoto di depan monument nasional. Saat malam lampu
menyala dan mewarnai gedung Manumen Nasional.
Saya terlalu seru menikmati
perjalanan dengan tean-teman saya, saya menjadi lupa mengabadikan tempat-tempat
yang saya kunjungi.
Saya sudah berkali kali
mengunjungi tempat bersejarah. Sayangnya, Kesan yang saya dapat pertama kali
selalu rishi dengan pengunjung yang tidak tahu diri. Kadang Saya kesal sendiri,
Mereka Hanya berfoto-foto sementara banyak yang bisa dipelajari ditempat wisata
sejarah. Masalah palin besar adalah sampah. BAnyak sekali pengunjung local yang
membuang sampah dengan tidak mempedulikan dimana tong sampah. Seharusnya kita
malu pada Turis asing yang mengunjungi tempat wisata sejarah Indonesia dengan
menghargai tempat itu. Turis lebih menghargai tempat itu dari pada kita yang
memiliki tempat bersejarah itu.
Menurut
saya, Tempat wisata bukan hanya pemerintah yang menjaga. Sebagai pengunjung
tempat bersejarah dimana banyak menyimpan benda-benda ratusan tahun da rapuh,
kita tidak boleh asal gerak. Seperi misalnya, Meriam Yang ada di kota tua,
Tidak seharusnya disenderi atau lebih parahnya lagi di naikki seolah-olah itu
adalah mainan kuda-kudaan.
Kita mesti memiliki kesadaran masing-masing saja untuk menjaga asset kita Suapaya masih bisa dilihat oleh Orang-orang Beberapa ratus Tahun kemudian. Karena Sejarah Tidak Boleh dilupakan.
Kita mesti memiliki kesadaran masing-masing saja untuk menjaga asset kita Suapaya masih bisa dilihat oleh Orang-orang Beberapa ratus Tahun kemudian. Karena Sejarah Tidak Boleh dilupakan.















